Langsung ke konten utama

Full Day School: Solusi Pendidikan atau Sekadar Wacana?

 Image result for muhadjir effendy

Wacana Full Day School sempat menggemparkan jagat pendidikan Indonesia saat dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Muhadjir Effendy. Sejak pertama kali diusulkan, pro dan kontra pun bermunculan, mulai dari orang tua, guru, hingga para pemerhati pendidikan.

Tapi sebelum buru-buru menyetujui atau menolak, yuk kita bedah sama-sama secara santai namun kritis—karena, hey, ini menyangkut masa depan anak-anak bangsa juga, kan?


Apa Itu Full Day School?

Secara sederhana, Full Day School berarti kegiatan belajar-mengajar dilakukan seharian penuh, biasanya dari pagi hingga sore (sekitar pukul 07.00–16.00). Konsep ini tidak hanya menambah jam pelajaran akademis, tapi juga memasukkan pendidikan karakter, aktivitas non-akademik, dan pembinaan moral.

Jadi bukan sekadar ‘menahan anak di sekolah’, tapi bertujuan agar waktu kosong mereka tidak dimanfaatkan untuk hal-hal negatif seperti kenakalan remaja.


Argumen yang Mendukung Full Day School

Banyak kalangan yang mendukung program ini dengan beberapa alasan logis dan menarik. Ini dia beberapa poin utamanya:

1. Mengurangi Kenakalan Remaja

Waktu kosong sepulang sekolah sering kali menjadi zona rawan bagi para remaja. Ketika anak-anak pulang pukul 13.00 dan orang tua baru pulang kerja pukul 17.00, ada celah waktu yang tidak terawasi.

Menurut data KPAI, banyak kasus kenakalan remaja terjadi di waktu sore hari—jam-jam rawan ketika anak-anak berada di luar rumah tanpa pengawasan langsung.

“Full day school bisa jadi solusi agar anak-anak tetap berada di lingkungan yang positif dan terarah,” kata Muhadjir Effendy saat pertama kali melontarkan gagasan ini.

2. Fokus pada Pendidikan Karakter

Full day school tidak sekadar menjejalkan pelajaran akademik, tapi juga memasukkan unsur karakter building. Artinya, siswa diajarkan tentang nilai seperti disiplin, kerja sama, empati, dan kejujuran.

Program seperti ini sejalan dengan kebutuhan zaman di mana soft skill dan etika tak kalah penting dibandingkan sekadar nilai rapor.

3. Lingkungan yang Terpantau dan Terstruktur

Dengan durasi belajar yang lebih panjang, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di bawah pengawasan guru, yang (idealnya) juga menjadi pembimbing karakter dan kepribadian mereka.


Argumen yang Menolak Full Day School

Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik dan menolak wacana ini. Berikut beberapa alasannya:

1. Belum Siap Secara Infrastruktur

Di kota besar mungkin bisa, tapi bagaimana dengan sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan)? Banyak sekolah yang masih kekurangan ruang kelas, guru, bahkan fasilitas dasar seperti air bersih dan listrik.

Mengharapkan mereka bertahan di sekolah sampai sore hari tanpa fasilitas memadai? Itu bukan pendidikan, itu penyiksaan.

2. Beban Guru yang Meningkat

Guru juga manusia. Dengan sistem full day, jam kerja mereka otomatis bertambah. Kalau kompensasi tidak sebanding, bisa jadi justru menurunkan kualitas pengajaran karena kelelahan dan burnout.

3. Tidak Semua Orang Tua Punya Jam Kerja Tetap

Argumen yang menyatakan bahwa anak harus “dijaga” sampai orang tua pulang kerja memang masuk akal… jika orang tuanya karyawan 9 to 5. Tapi bagaimana dengan petani, pedagang pasar, nelayan, atau buruh harian?

Model keluarga di Indonesia sangat beragam. Jadi, kebijakan pendidikan pun harus mempertimbangkan realitas sosial dan ekonomi yang kompleks ini.


Sudut Pandang Alternatif: Bukan Soal Setuju atau Tidak, Tapi Siap atau Belum?

Daripada langsung debat soal setuju atau tidak, mungkin pertanyaannya perlu digeser:

“Apakah Indonesia saat ini SIAP untuk menerapkan full day school secara menyeluruh?”

Jawabannya? Mungkin belum.

Namun, bukan berarti ide ini harus dibuang. Yang perlu kita dorong adalah persiapan sistematis—mulai dari fasilitas, pelatihan guru, hingga partisipasi orang tua.

Kita bisa mulai dengan program percontohan di daerah-daerah yang sudah siap secara infrastruktur. Lihat hasilnya. Evaluasi. Kembangkan secara bertahap.


Kecurangan di Dunia Pendidikan: Jangan Lupakan Masalah Sistemik

Berbicara tentang reformasi pendidikan, jangan lupakan juga penyakit lama yang terus berulang: kecurangan dalam sistem pendidikan, termasuk dalam pelaksanaan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) dan ujian lainnya.

🎭 Contoh Kasus: Joki UTBK

Fenomena joki UTBK mencoreng wajah dunia pendidikan. Seseorang dibayar untuk mengikuti ujian atas nama orang lain. Ini tidak hanya merugikan peserta yang jujur, tapi juga memperburuk integritas sistem pendidikan kita.

Kenapa ini bisa terjadi?

  • Tekanan untuk masuk PTN favorit

  • Sistem seleksi yang masih berfokus pada angka

  • Kurangnya pengawasan digital yang ketat


🛡️ Cara Mengatasinya:

  1. Verifikasi Biometrik: Seperti sidik jari atau pengenalan wajah saat ujian.

  2. Pendidikan Moral Sejak Dini: Bukan sekadar slogan, tapi masuk kurikulum yang aplikatif.

  3. Sanksi Tegas: Baik untuk peserta maupun pihak yang membantu kecurangan.

  4. Kampanye Edukasi: Agar masyarakat paham bahwa nilai bukan segalanya.


Kesimpulan: Pendidikan Itu Investasi, Bukan Percobaan

Full day school adalah gagasan yang punya potensi besar. Tapi seperti membangun rumah, pondasinya harus kuat. Jangan sampai anak-anak jadi korban percobaan sistem yang belum siap.

Yang lebih penting dari sistem itu sendiri adalah:

  • Apakah anak-anak belajar dengan bahagia?

  • Apakah mereka merasa aman, berkembang, dan dihargai?

  • Apakah kita, sebagai masyarakat, ikut mengawal arah pendidikan ini?

Sebagai penutup, yuk jadi warga yang kritis dan objektif. Jangan asal menelan wacana mentah-mentah. Tugas kita bukan hanya mendukung atau menolak, tapi mengawal dan mendorong solusi.

Apapun keputusannya nanti, semoga demi kemajuan bangsa. Merdeka!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Mahasiswa: Biar Nggak Keteteran, Yuk Coba Jadwal Mingguan!

Assalamualaikum dan selamat datang di dunia mahasiswa! Buat kamu yang baru aja lulus dari SMA dan resmi jadi mahasiswa, selamat ya! Masa kuliah adalah fase yang seru, menantang, dan... bikin pusing juga kadang-kadang. 😅 Tapi tenang, kamu nggak sendirian kok! Banyak banget mahasiswa—baik yang baru maupun yang udah senior—yang ngerasa keteteran karena aktivitas harian yang padat. Mulai dari jadwal kuliah, tugas menumpuk, organisasi, sampai urusan pribadi... semua numpuk jadi satu. Kalau nggak diatur, bisa-bisa kamu jadi stres sendiri dan kesehatan pun ikut kena dampaknya. Nah, supaya kamu bisa tetap waras dan produktif selama jadi mahasiswa, aku punya satu tips simpel tapi powerful : buat jadwal mingguan! Kenapa Harus Punya Jadwal Mingguan? Mungkin kamu mikir, “Lah, repot amat, ngapain sih harus bikin jadwal segala?” Justru karena sibuk, kamu butuh yang namanya perencanaan waktu . Jadwal mingguan akan membantumu untuk: Menyusun prioritas kegiatan. Menyelesaikan tugas tepat wakt...

Korupsi di Indonesia: Masihkah Kita Peduli?

Jakarta — Ketika mendengar kata korupsi , apa yang langsung terlintas di pikiranmu? Apakah itu sesuatu yang biasa saja, seperti halnya berita harian yang sering muncul di televisi? Ataukah kamu menganggapnya sebagai kejahatan luar biasa yang merugikan bangsa dan harus diberantas sampai ke akar-akarnya? Tak bisa dipungkiri, korupsi sudah menjadi bagian dari realita pahit di negeri ini. Bahkan, bagi sebagian orang, kasus korupsi di Indonesia mungkin sudah dianggap sebagai “hal yang lumrah”—saking seringnya terjadi. Ada yang sudah terlalu apatis, merasa bahwa melawan korupsi itu percuma. Namun, masih banyak juga yang percaya bahwa negeri ini bisa berubah, bahwa Indonesia suatu saat bisa bebas dari korupsi. Apakah kamu termasuk yang masih percaya? Lembaga Anti Korupsi: Dari Masa ke Masa Kalau kita bicara soal pemberantasan korupsi, maka kita tidak bisa lepas dari yang namanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) . Tapi tahukah kamu bahwa lembaga anti korupsi di Indonesia tidak hanya muncul p...

Asian Games 2018: Aku Indonesia, Aku Bangga!

Perhelatan olahraga terbesar di Asia, Asian Games , kembali digelar. Dan kabar membanggakannya— Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah! Sebuah kehormatan besar yang menjadi bukti nyata pengakuan masyarakat internasional atas kapabilitas Indonesia. Bukan pertama kali kita menyelenggarakan event ini. Di tahun 1962 , Indonesia juga dipercaya sebagai tuan rumah, dan kini—56 tahun kemudian—kepercayaan itu kembali diberikan kepada bangsa ini. Asian Games 2018 bukan hanya ajang olahraga, tapi juga ajang kebanggaan, pembuktian, dan kesempatan emas untuk menunjukkan wajah Indonesia ke dunia. Kenapa Kita Harus Bangga Jadi Tuan Rumah? Menjadi tuan rumah Asian Games bukan perkara sepele. Tidak semua negara Asia bisa terpilih. Ada banyak aspek yang jadi pertimbangan: Stabilitas dan keamanan negara Kesiapan infrastruktur Kemampuan finansial Komitmen penyelenggaraan yang matang Indonesia lolos dari semua kriteria itu. Ini bukti bahwa bangsa kita mampu dan layak bersaing di ...