Langsung ke konten utama

Perjalanan Setelah Wisuda: Dari Gagal Lamar Kerja Hingga Jadi Bagian Kampus Ternama

 

(Gambar: pixabay)

Pertengahan tahun 2020 seharusnya jadi momen yang penuh suka cita. Setelah 4 tahun menempuh pendidikan, akhirnya aku resmi diwisuda. Meski wisuda digelar secara online karena pandemi, aku tetap merasa bangga. Tapi di balik senyuman di depan kamera, ada satu pertanyaan besar di benakku: “Setelah ini, aku ngapain?”

Mencari Pekerjaan: Awal yang Tidak Mudah

Seperti kebanyakan lulusan baru lainnya, aku mulai masuk ke fase yang penuh harap dan penuh tanya: melamar pekerjaan.

Awalnya semangat banget. Aku mencoba berbagai lowongan kerja—mulai dari perbankan, tambang, hingga perusahaan penerbit buku. Pokoknya, yang penting bisa kerja dulu. Jurusan kuliah? Belakangan. Gaji? Bonus kalau cocok.

Aku juga langsung unduh semua aplikasi pencari kerja: JobStreet, Glints, LinkedIn, bahkan aplikasi lokal. Setiap pagi, aktivitas utamaku adalah membuat daftar: “Hari ini mau apply ke mana ya?”


Kirim Lamaran Tanpa Henti

Beberapa minggu berlalu. Inbox email mulai terisi dengan balasan—tapi bukan balasan yang bikin senang. Sebagian besar adalah notifikasi gagal lolos seleksi awal.

Namun ada juga beberapa perusahaan yang mengundang interview. Wah, saat itu rasanya seperti dapat tiket konser impian. Aku siapkan semuanya: riset perusahaan, latihan wawancara, pakai baju terbaik.

Sayangnya, keberuntungan belum berpihak. Gagal di tahap akhir jadi makanan harian. Tapi aku belum menyerah.

“Gagal bukan akhir dari segalanya, asal jangan menyerah.”


200 Lamaran dalam Sebulan: Serius, Ini Bukan Judul Clickbait

Suatu hari, salah satu aplikasi kirim notifikasi lucu:

“Kamu telah melamar ke lebih dari 200 perusahaan bulan ini. Coba lebih selektif, ya!”

Aku ngakak baca notifikasi itu. Bayangin, dua ratusan lamaran dalam sebulan—itu berarti rata-rata 6-7 lamaran per hari. Seriusan, itu kayak kerja full-time sebagai pelamar kerja.

Tapi tetap saja: belum ada yang berhasil.


Menunggu yang Terlalu Lama: Dari Harapan ke Frustasi

Karena bosan hanya scroll lowongan, akhirnya aku memutuskan membantu paman berjualan. Niat awalnya cuma buat “sambil nunggu panggilan.” Tapi yang awalnya dikira cuma satu-dua bulan, ternyata berubah jadi dua tahun menganggur.

Dua tahun, bro.

Lama-lama mental mulai goyah. Setiap buka media sosial, aku lihat teman-teman satu angkatan sudah bekerja, gajian, ada yang udah nikah juga. Aku? Masih berkutat dengan lamaran dan harapan.


Media Sosial dan Dampaknya ke Kesehatan Mental

Dari sinilah aku sadar satu hal: media sosial bisa berdampak buruk ke kesehatan mental.
Bukan karena mereka salah update status, tapi karena aku terlalu membandingkan diriku dengan orang lain.

Aku mulai insecure, merasa tidak cukup layak, dan kehilangan rasa percaya diri. Aku mulai bertanya-tanya:

“Apa aku nggak cukup bagus? Salah jurusan kah? Atau cuma sial?”

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengurangi penggunaan media sosial dan mulai fokus pada diriku sendiri. Aku detox dari semua “update pencapaian orang lain” dan mulai membenahi mental dan strategi.


Menata Ulang Fokus: Dari Frustasi ke Refleksi

Aku mulai menata ulang fokus hidup. Aku sadar, mungkin selama ini aku terlalu asal-asalan dalam melamar kerja. Terlalu berharap cepat dapat, tapi tidak memperkuat kualitas diri. Jadi, aku mulai:

  • Meningkatkan skill: ikut pelatihan online gratis dan berbayar.

  • Membuat CV dan portofolio yang lebih profesional.

  • Latihan interview dengan teman, bahkan di depan kaca.

  • Lebih selektif dan terarah dalam memilih lowongan.

Sedikit demi sedikit, aku bangun kembali kepercayaan diri. Bukan karena dunia luar berubah, tapi aku yang berubah.


Akhirnya Diterima: Sebuah Kejutan Manis

Pertengahan 2022, akhirnya berita baik itu datang.

Aku diterima kerja di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia (maaf ya, nama kampusnya dirahasiakan, hehe). Rasanya seperti mimpi. Setelah semua penolakan dan hampir menyerah, akhirnya doa-doa itu terjawab juga.

Prosesnya tidak instan. Aku harus melalui serangkaian tes dan wawancara. Tapi karena sudah banyak “jam terbang” gagal sebelumnya, kali ini aku jauh lebih siap. Dan alhamdulillah, aku lolos.


Hal yang Aku Pelajari dari Perjalanan Ini

  1. Gagal itu biasa. Tapi yang luar biasa adalah mereka yang tetap bangkit setelah gagal.

  2. Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain. Kita semua punya waktu dan garis finish yang berbeda.

  3. Kurangi sosmed kalau membuatmu merasa rendah diri. Detox mental itu penting.

  4. Perbaiki strategi, bukan cuma menambah jumlah usaha.

  5. Percaya pada proses, bukan hanya hasil. Semuanya akan datang di waktu yang tepat.


Penutup: Habis Gelap, Terbitlah Terang

Seperti kata R.A. Kartini, “Habis gelap terbitlah terang.”

Apa yang aku alami bukanlah cerita langka. Mungkin kamu yang baca tulisan ini juga sedang berada di fase yang sama. Lagi bingung arah, merasa gagal, kehilangan semangat.

Tapi percayalah, itu semua cuma fase, bukan akhir.

Terus semangat, terus perbaiki diri, dan yang paling penting: jangan menyerah.
Kamu tidak sendiri. Dan kamu pasti bisa.


Coming Soon: Cerita Hari Pertama Kerja!

Terima kasih sudah membaca cerita ini. Di tulisan berikutnya, aku bakal berbagi pengalaman hari pertama kerja di kampus ternama ini.
Spoiler dikit: deg-degan banget!

Sampai jumpa di artikel berikutnya. Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap percaya diri, ya!

#CeritaFreshGraduate #KisahLulusanBaru #GagalLamarKerja #BangkitDanBerhasil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Mahasiswa: Biar Nggak Keteteran, Yuk Coba Jadwal Mingguan!

Assalamualaikum dan selamat datang di dunia mahasiswa! Buat kamu yang baru aja lulus dari SMA dan resmi jadi mahasiswa, selamat ya! Masa kuliah adalah fase yang seru, menantang, dan... bikin pusing juga kadang-kadang. 😅 Tapi tenang, kamu nggak sendirian kok! Banyak banget mahasiswa—baik yang baru maupun yang udah senior—yang ngerasa keteteran karena aktivitas harian yang padat. Mulai dari jadwal kuliah, tugas menumpuk, organisasi, sampai urusan pribadi... semua numpuk jadi satu. Kalau nggak diatur, bisa-bisa kamu jadi stres sendiri dan kesehatan pun ikut kena dampaknya. Nah, supaya kamu bisa tetap waras dan produktif selama jadi mahasiswa, aku punya satu tips simpel tapi powerful : buat jadwal mingguan! Kenapa Harus Punya Jadwal Mingguan? Mungkin kamu mikir, “Lah, repot amat, ngapain sih harus bikin jadwal segala?” Justru karena sibuk, kamu butuh yang namanya perencanaan waktu . Jadwal mingguan akan membantumu untuk: Menyusun prioritas kegiatan. Menyelesaikan tugas tepat wakt...

Korupsi di Indonesia: Masihkah Kita Peduli?

Jakarta — Ketika mendengar kata korupsi , apa yang langsung terlintas di pikiranmu? Apakah itu sesuatu yang biasa saja, seperti halnya berita harian yang sering muncul di televisi? Ataukah kamu menganggapnya sebagai kejahatan luar biasa yang merugikan bangsa dan harus diberantas sampai ke akar-akarnya? Tak bisa dipungkiri, korupsi sudah menjadi bagian dari realita pahit di negeri ini. Bahkan, bagi sebagian orang, kasus korupsi di Indonesia mungkin sudah dianggap sebagai “hal yang lumrah”—saking seringnya terjadi. Ada yang sudah terlalu apatis, merasa bahwa melawan korupsi itu percuma. Namun, masih banyak juga yang percaya bahwa negeri ini bisa berubah, bahwa Indonesia suatu saat bisa bebas dari korupsi. Apakah kamu termasuk yang masih percaya? Lembaga Anti Korupsi: Dari Masa ke Masa Kalau kita bicara soal pemberantasan korupsi, maka kita tidak bisa lepas dari yang namanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) . Tapi tahukah kamu bahwa lembaga anti korupsi di Indonesia tidak hanya muncul p...

Asian Games 2018: Aku Indonesia, Aku Bangga!

Perhelatan olahraga terbesar di Asia, Asian Games , kembali digelar. Dan kabar membanggakannya— Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah! Sebuah kehormatan besar yang menjadi bukti nyata pengakuan masyarakat internasional atas kapabilitas Indonesia. Bukan pertama kali kita menyelenggarakan event ini. Di tahun 1962 , Indonesia juga dipercaya sebagai tuan rumah, dan kini—56 tahun kemudian—kepercayaan itu kembali diberikan kepada bangsa ini. Asian Games 2018 bukan hanya ajang olahraga, tapi juga ajang kebanggaan, pembuktian, dan kesempatan emas untuk menunjukkan wajah Indonesia ke dunia. Kenapa Kita Harus Bangga Jadi Tuan Rumah? Menjadi tuan rumah Asian Games bukan perkara sepele. Tidak semua negara Asia bisa terpilih. Ada banyak aspek yang jadi pertimbangan: Stabilitas dan keamanan negara Kesiapan infrastruktur Kemampuan finansial Komitmen penyelenggaraan yang matang Indonesia lolos dari semua kriteria itu. Ini bukti bahwa bangsa kita mampu dan layak bersaing di ...